Oktober 31, 2026

Melestarikan Semangat Kebersamaan dalam Pembangunan Desa di Pamekasan

PAMEKASAN – Pembangunan infrastruktur identik dengan penggunaan alat berat dan mesin modern untuk mempercepat pekerjaan. Namun, suasana berbeda terlihat dalam pelaksanaan TMMD ke-130 Kodim 0826/Pamekasan di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu.

Personel Satgas bersama masyarakat justru terlihat mengerjakan sejumlah sasaran pembangunan secara manual. Pasir diangkut menggunakan ember, batu dipindahkan bersama-sama, sementara adukan material dibuat menggunakan cangkul.

Cara kerja tersebut menjadi gambaran bahwa TMMD tidak hanya berorientasi pada hasil pembangunan fisik, tetapi juga mengutamakan proses kebersamaan antara TNI dan masyarakat.

Prinsip gotong royong itu memiliki akar sejarah panjang. Program yang kini dikenal sebagai TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) bermula dari ABRI Masuk Desa (AMD) pada 1980. Gagasan Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf tersebut menempatkan kebersamaan prajurit dan rakyat sebagai fondasi utama kegiatan pembangunan.

Melalui penggunaan peralatan sederhana, masyarakat diberikan kesempatan untuk terlibat langsung. Prajurit tidak hanya bertugas membangun, tetapi juga membaur, bekerja bersama, dan berbagi pengetahuan dengan warga.

Nilai tersebut tetap dipertahankan dalam pelaksanaan TMMD di Desa Jarin.

Pasiter Kodim 0826/Pamekasan Kapten Chb Aman Karyoko menjelaskan bahwa metode kerja manual menjadi salah satu cara untuk memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan.

“Kalau pakai alat berat, warga hanya jadi penonton. Kalau pakai cangkul, warga bisa kerja bareng setiap hari. Itu inti TMMD,” jelasnya saat ditemui di Balai Desa Jarin, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, terdapat nilai penting yang ingin dibangun melalui keterlibatan masyarakat. Pertama, menumbuhkan ketahanan sosial melalui rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun. Warga yang ikut mengerjakan jalan dan drainase diharapkan memiliki kepedulian lebih besar untuk menjaga serta merawatnya.

Kedua, memberikan pengalaman dan keterampilan kepada masyarakat. Selama proses pembangunan, warga dapat belajar mengenai teknik pengecoran, pemasangan bata, serta pengolahan adukan material melalui pendampingan personel TNI.

Ketiga, memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat. Hubungan tersebut tidak hanya terjalin ketika bekerja di lokasi sasaran, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari.

Hal itu terlihat dari keberadaan Babinsa Desa Jarin, Serda Syarif, yang tinggal di rumah warga selama kegiatan TMMD berlangsung. Interaksi sehari-hari, makan bersama, hingga salat berjamaah di musholla menjadi bagian dari kedekatan tersebut.

Tokoh masyarakat Dusun Kotalon, Samsul Ma’arif, juga menjadi salah satu warga yang aktif bergotong royong. Ia bersama personel Satgas setiap pagi membantu mengangkut batu dan material untuk pembangunan drainase.

Dalam pelaksanaannya, Satgas tetap memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan. Pengaspalan jalan di tiga dusun, yakni Morsoksok, Barat, dan Kotalon, menggunakan baby roller serta truk aspal. Namun, pekerjaan finishing dan pemerataan tetap melibatkan tenaga manual masyarakat.

Kepala Desa Jarin, Moh. Zuhri, menilai pola pembangunan seperti ini memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Warga tidak sekadar menerima hasil akhir, tetapi ikut merasakan perjuangan dalam proses pengerjaannya.

“Kalau proyek dari atas, kami terima jadi. Kalau TMMD, kami ikut sakit pinggangnya, jadi kami sayang hasilnya. Drainase itu anak saya ikut gali,” tuturnya.

Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan desa membutuhkan lebih dari sekadar peralatan dan tenaga kerja. Semangat kebersamaan menjadi modal penting agar hasil pembangunan dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Melalui TMMD ke-130, Satgas Kodim 0826/Pamekasan kembali menunjukkan bahwa tradisi gotong royong yang diwariskan sejak era AMD masih relevan dalam pembangunan desa masa kini.

(Pendim 0826)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *